Ganyang ganyang siang siang

Dear All..

Apa kabar? Bagaimana puasanya nih.. ga kerasa ya udah mau 10 hari terakhir. Semoga kita semua diberkahi ya puasanya. oiya, sorry dory dah lama ga updet nih blog. Maklum lagi dikejar deadline..

Anyways,

Saya sempet sedih denger kalo ada sweeping warga Malaysia di Indonesia, terutama Jakarta. Belom lagi adanya razia kelompok2 yg ada di masjid karena gerakan teroris yg semakin menggila. Nasionalisme salah kaprah atau gimana sih ini? 😦 Apakah dengan pelemparan telor busuk, pembakaran bendera Malaysia sampe pelarangan penerimaan mahasiswa Malaysia di salah satu universitas negeri akan membuat Malaysia jera akan perbuatannya? Duh.. ada apa dengan bangsaku ini..

Berikut ada artikel bagus dari salah seorang teman saya:

Kepada Yth Kawan-kawan,

Perlu saya sampaikan artikel dibawah ini. Kesalahan producer discovery channel perihal pemakain tari pendet untuk tourism promotion campaign oleh Malaysia sudah diakui dan permintaan maaf sudah pun di buat, akhirnya stop sampai disini.

Kami sebagian kawan-kawan Indonesia di Malaysia sangat prihatin dengan kejadian-kejadian sbb:
1. Pembakaran bendera Malaysia oleh demonstran di Indonesia sudah sangat keterlaluan dan berlebihan sebagai penghinaan bangsa lain (tetangga serumpun), sementara Perdana Menteri sangat arif menyikapi itu dan rakyat Malaysia tidak responsip negatif menanggapi hal itu dengan kemarahan, melambangkan kedewasaan rakyat Malaysia. Bagaimana sebaliknya bila terjadi bendera Indonesia dibakar demonstran di Malaysia.
2. Satu perguruan tinggi negeri di Semarang melarang pelajar/mahasiswa Malaysia belajar di sana adalah ceroboh dan akan merugikan bangsa sendiri. Merugikan promotion perguruan tinggi di pergaulan international. Ingat makin banyak international student maka makin tinggi bobot nilai perguruan tinggi itu.
3. Satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta menempuh jalan ‘melarang’ stafnya melanjutkan ke PT di Malaysia adalah keputusan lebih baik dari PTN di Semarang itu. Artinya membatasi stafnya pergi ke Malaysia lebih baik daripada membatasi pelajar/mahasiswa international (Malaysia) datang ke PT kita.
Tetapi sikap menutup diri baik PTS di Yogya dan PTN di Semarang itu menunjukkan ketidakprofessionalan dalam berkeputusan dengan mengaitkan isu-isu ketidak serasian hubungan dua negara, terlalu responsif dan emosional.
4. Saya dan kawan-kawan mengakui bahwa banyak PTN dan PTS di Malaysia unggul dalam aspek fasilitas akses international journal, international fonference, di Malaysia telah establish berdiri international publisher (Oxford, Perason, McGrawHill, dsb.), akses dan kerjasama dengan asosiasi international sangat intensif, cabang-cabang universitas intenational juga banyak, unjuk promosi pendidikan, pariwisata, pembangunan infrastruktur, IT dsb. dikemas dan dimanage dengan baik.
Lalu apa lagi yang diragukan tentang pendidikan di Malaysia khususnya atau dinegara tetangga lainnya, Singapura, Thailand, China dsb.
Keunggulan PTS PTN di Indonesia bukan pengakuan oleh diri kita sendiri tetapi yang sejati keunggulan itu atas pengakuan dan award oleh bangsa lain.

Kalau kita jujur …… aplikasi iptek dari negara dikawasan asean atau asia timur jauh lebih sesuai dan selevel untuk diterapkan di Indonesia daripada iptek barat atau negara modern (yang mungkin berada jauh di langit). Satu unsur pendukungnya adalah kultur dan sosial budaya, serta tingkat perkembangan negara yang relatif tidak berbeda jauh dengan negara-negara maju.
Gap negara maju dan Indonesia bisa 20-30 tahunan atau bahkan lebih, tetapi Gap kemajuan poembangunan antara negara-negara asean dan asia timur relatif lebih pendek, sehingga iptek dan penerapannya akan jauh lebih mudah dikawasan asean dan asia timur.

5. Malaysia saya nilai mempunyai strategi yang bagus memperkuat eksistensinya di asean, misalnya dalam bidang sosial kebajikan, membantu intensif bencana di Aceh, di Yogya, di Bengkul, yang terakhir di TasikMalaya (kurban Gempa).
dalam bidang pendidikan (banyak international university/student), bidang olahraga/ wisata, bidang bisnis penerbangan international (MAS dan Airasia sangat energic dan progresif, penetrasi pasar ke seluruh engara asean dan benua lain).

Kesimpulannya
Kita perlu mawas diri masih banyak kekurangan sifat luhur yang lalai untuk ditumbuhkan bangsa Indoensia berkaitan dengan pergaulan dan promosi martabat bangsa dikancah pergaulan bilateral ataupun international. Bangsa kita terlalu negatif responsif, mengedepankan reaksi sporadis dengan protes dan demonstrasi menanggapi sesuatu masalah antar negara. Langkah diplomasi dan promosi pembangunan ke asean dan dunia international kurang tajam.

Follow up:
Kita renungkan bersama-sama masalah di atas dan mari kita perbaiki bersama-sama martabat bangsa Indonesia melalui mulut, tangan dan kaki kita sesuai dengan posisi dan peran kita masing2, misalnya praktisi profesional, guru, dosen, pelajar, mahasiswa, pegawai negara, bahkan ibu-ibu rumahtangga, tanpa kecuali.
Banyak dan besar peluang kita masing-masing untuk memperbaiki keadaan individu dan kolektif bangsa Indonesia.
Apa kuncinya saudara-saudara? Sungguh-sungguh kerja keras dan cerdas, hargai prestasi, disiplin dan manage waktu.

Catatan:
Media informasi di Indonesia supaya lebih berbobot untuk memberi informasi, melindungi dan menangkan masyarakat, bukan memblow up berlebihan yang tidak jarang sangat merugikan bangsa Indonesia sendiri. Kebebasan pers telah dilampaui
Media informasi di Malaysia lebih dapat memberi informasi, mengontrol dan melindungi masyarakatnya. Kebebasan pers dikendalikan pemerintah.

Suwardo
PhD in Transportation Engineering and Traffic
CVE UTP

Kutipan artikel:

‘End the Pendet controversy’

2009/09/04

PUTRAJAYA: Deputy Prime Minister Tan Sri Muhyiddin Yassin wants an end to the Pendet Balinese dance issue as Discovery Channel has explained and apologised over the matter.

The dance was included in a video put up by Discovery Channel as a form of promotion for Malaysia.

“There is nothing in our records to show that the Tourism Ministry or Tourism Malaysia was involved at any stage of the production of the video. We did not do it.

“Discovery Channel had done it as a promotion of Malaysia,” Muhyiddin said after chairing a cabinet committee meeting on tourism here yesterday.
Muhyiddin said he was informed that Discovery Channel had apologised and explained the actual situation.

“They have explained the matter (to Indonesia) and I hope the whole episode will stop here. We should not be at fault. The explanation should be accepted and we hope this will put an end to this uproar.”

Muhyiddin added that Tourism Minister Datuk Seri Dr Ng Yen Yen had received the letter sent by her Indonesian tourism counterpart.

The latest controversy is not the first time Indonesians have been up in arms over perceived theft of their cultural icons.

A similar spat erupted a few years ago over the use of the folk song, Rasa Sayang, claimed by Indonesians as their own, in another Malaysian tourism advertisement.

Last Thursday, Bernama reported that the Malaysian Embassy in Jakarta had expressed regret over misunderstandings and accusations levelled by the Indonesian media.

The next day, it received a bomb threat from an unidentified caller, who claimed that a bomb had been planted in the building and was set to explode at 11am.

However, the deadline passed without incident.

Protesters also threw rotten eggs and burned a Malaysian flag to express their anger.
On yesterday’s tourism meeting, Muhyiddin said various issues were discussed, ranging from cooperation between ministries and agencies to ensure effective promotions, new tourism targets and niche markets, and appointment of tourism ambassadors.
Source: http://www.nst.com.my/Current_News/NST/articles/6pep/Article/index_html</a

Advertisements

6 thoughts on “Ganyang ganyang siang siang

  1. betul,saya setuju dengan pernyataan di atas,bahwa memang bangsa kita kurang dewasa dalam menyikapi musibah atau masalah yang menimpa atau terjadi.Take care ya sis..kawatir nih kalau mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Malaysia terjadi apa-apa.

  2. Kebijakan yang di ambil oleh PT di Semarang pastinya sudah dipertimbangkan secara masak. Mustahil untuk mengeluarkan kebijakan tanpa alasan yang mendasar. Bisa jadi alasannya bukan masalah untung dan rugi, tapi harga diri bangsa. Entahlah harga diri yang mana, yang pasti serendah apapun tetep ingin punya rasa dihargai. Maybe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s